Sudah menjadi kebiasaan, para orang tua menyebut anak-anaknya dengan sebutan “buah hatiku/tsamrotul fuadii”
Dalam pepatah arab disebutkan
الولد سر أبيه
Seorang anak itu (akan menampakkan) rahasia bapaknya
Dalam sebuah syair di sebutkan:
نعم الإله على العباد كثيرة ** وأجلهن نجابة الأبناء
Nikmat Tuhan kepada hamba-Nya amatlah banyak, tetapi yang paling utama di antara nikmat-nikmat tersebut adalah anak-anak yang cerdas
Dalam kehidupan pergaulan sehari-hari, saya sering mengamati dan mendapati, bahwa seseorang yang berbudi baik, sholeh, berprestasi, dsb, merupakan anak-anak dari orang tua yang baik dan sholeh meskipun para orang tua itu bukan merupakan tokoh agama atau orang yang memiliki jabatan dalam masyarakatnya.
Suatu ketika, seorang wali agung syaikh Fudloil bin ‘Iyadl rahimahullah melihat anak laki-lakinya yang masih kecil membersihkan timbangan yang biasa digunakan oleh abahnya dengan lengan bajunya.
Melihat yang demikian, syaikh Fudloil bertanya; apa yang sedang engkau lakukan wahai anakku?”
“Aku membersihkan timbangan ini, agar aku tidak memperberat timbangan kaum muslimin dengan debu-debu jalanan.”
Mendengar ucapan anak laki-lakinya yang masih kecil dan polos itu, syaikh Fudloil menangis lalu berkata; “Sungguh apa yang engkau lakukan ini wahai anakku, lebih utama menurutku dari pada melakukan dua kali haji dan dua kali umroh.”
***
رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء
ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما
اللهم إنى أسألك بأن لك الحمد لا اله الا أنت الحنان المنان بديع السموات و الأرض ذو الجلال و الاكرام ان ترزقنى الذرية الصالحة
*As’ad_medioen, krapyak, 6 november 2017
